Hey, Ini Dirga
Gue Dirga Isman — CEO Uraga, digital agency berbasis di Jakarta. Gue udah kerja di dunia konten digital dan marketing lebih dari lima tahun, memimpin tim 40 orang di Jawa Timur dan bantu 300+ brand navigasi dunia online yang berantakan tapi seru ini.
Belakangan, gue lagi obsesif banget soal gimana AI nge-reshape permainan konten. Agency gue hidup dari strategi konten, dan gue nggak bisa hitung berapa banyak klien yang nanya:
"Dirga, kita hajar aja full konten AI nggak?"
Jawaban singkatnya? Nggak.
Minggu lalu, gue nemuin dua berita besar yang nyambung kayak puzzle:
YouTube bakal motong monetisasi buat konten AI tanpa wajah mulai 15 Juli. Channel yang pake suara AI, kompilasi low-effort, atau konten sampah daur ulang bakal ditendang dari ad revenue.
Bersamaan dengan itu, traffic pencarian Google anjlok buat banyak publisher karena AI summaries (kayak Google AI Overviews) nge-replace klik. Content farm yang dibangun cuma buat SEO sekarat cepet.
Dan orang-orang? Kita bisa langsung mencium kalau itu konten AI.
Buat siapapun yang jalanin bisnis, brand, atau channel creator, ini penting banget. Arus sudah berbalik dari konten yang ngejar algoritma menuju kreasi yang autentik dan human-first.
Jadi mari kita bahas gimana caranya future-proof konten lo di lanskap baru ini.
1. Autentisitas Ngalahin Otomatisasi
Emang menggoda banget biarin AI nge-generate blog post, TikTok, atau video YouTube tanpa wajah. Tapi platform mulai nge-reward orisinalitas dan kepribadian dibanding konten generik yang diproduksi massal.
Aturan baru YouTube membuktikan ini. Mereka lagi nge-crack down:
Channel text-to-speech yang bacain postingan Reddit
Video montase tanpa konteks atau komentar
Explainer suara robot tanpa kehadiran manusia asli
Dari pengalaman gue sendiri kerja sama brand, konten yang nempel selalu datang dari perspektif manusia nyata — cerita personal, opini kuat, atau insight yang berguna. Itulah yang orang share, komenin, dan inget.
Insider tip: Kalau lo pake tools AI, fine. Tapi inject suara lo, humor lo, atau sudut pandang unik lo. Jangan biarin AI jadi ghostwriter lo dari awal sampai akhir.
2. Mikir Melampaui Traffic Pencarian
Bertahun-tahun, content farm ngejar ranking Google. Sekarang? AI Overviews dan chatbot kayak ChatGPT bikin makin sedikit orang yang klik ke website. Bahkan publisher besar kehilangan traffic.
Sebagai gantinya, fokus ke:
Bangun audiens langsung lewat newsletter atau komunitas
Bikin channel milik brand sendiri (kayak YouTube, podcast, atau bahkan private Slack group)
Manfaatin platform kayak Substack, yang bikin lo punya hubungan langsung sama subscriber sambil dapet built-in discovery
Secara personal, agency gue udah shifting budget dari pure SEO ke newsletter dan konten video. Lebih lambat bangunnya, tapi jauh lebih defensible.
Coba ini: Mulai kecil — bahkan email mingguan dengan insight personal bisa nurture audiens loyal di luar kontrol Google.
3. Wajah Manusia Lebih Menjual
Ini faktanya: orang percaya orang. Bukan logo tanpa wajah atau narator robot.
Bahkan Yahoo kolaborasi sama video creator buat produksi artikel DIY tertulis. Kenapa? Karena audiens suka creator yang mereka rasa "kenal," dan percaya rekomendasinya.
Entah lo solo creator atau brand, tampilin wajah di konten lo:
Host video YouTube lo sendiri daripada pake stock footage
Tampilin behind-the-scenes di Instagram atau TikTok
Feature anggota tim di blog post atau konten LinkedIn
Gue akui, gue orangnya cukup introvert. Ngomong di depan kamera awalnya nggak natural buat gue. Tapi lonjakan engagement-nya nggak bisa dipungkiri. Orang connect sama manusia, bukan logo.
4. Diversifikasi Monetisasi Sejak Awal
Tema lain yang muncul: creator dan publisher nggak bisa bergantung pada satu sumber revenue. Iklan doang terlalu volatile, apalagi kalau algoritma berubah.
Beberapa alternatif praktis:
Tawarkan premium subscription (bahkan buat extras kecil kayak template atau akses private community)
Jual produk digital yang sesuai niche lo — misalnya pola jahit, kayak yang di-highlight di newsletter soal fashion creator itu
Adain workshop atau online course
Partner sama brand dengan cara yang autentik
Gue udah lihat banyak creator kecil yang earn lebih banyak dari produk atau membership mereka sendiri dibanding dari ad revenue.
CTA: Punya skill niche? Brainstorm satu produk kecil atau jasa yang bisa lo jual langsung ke audiens lo. Coba aja!
Penutup
Jadi ya — AI nggak akan hilang. Ini tool yang powerful, dan gue pake setiap hari di kerjaan agency. Tapi pesan dari platform kayak YouTube itu crystal clear:
Jadilah nyata.
Jadilah manusia.
Jadilah orisinal.
Karena pada akhirnya, autentisitas itu raja. Dan jujur, jauh lebih seru bikin konten yang genuinely bikin lo bangga daripada nge-pump konten AI tanpa jiwa.
Lo udah eksperimen sama konten AI? Ada win — atau flop parah? Drop komentar atau DM gue di LinkedIn. Yuk ngobrolin masa depan konten bareng.
Dan hey — kalau lo suka ini, follow gue buat lebih banyak pemikiran soal strategi digital dan dunia konten yang aneh tapi mengasyikkan. Gue selalu sharing insight praktis dari lapangan.
Stay human, teman-teman.
