Closing ratusan juta dari inbound ads itu skill. Tapi itu bukan skill sales B2B yang paling penting, yaitu berburu prospek dari nol. Banyak orang ngaku "pencetak rekor" padahal semua transaksinya datang dari iklan yang udah jalan manis dari tim marketing.

Saya sering ketemu tipe begini. Nuntut macem-macem. Ngerasa paling kerja sendiri. Pas dicek track record-nya? Murni inbound semua.

Saya nggak mau remehin kerjaan closing. Discovery, objection handling, negotiation, baca stakeholder, semua butuh otak dan jam terbang. Itu bukan kerjaan CS yang cuma copy-paste invoice. Tapi itu skill yang beda jauh dari nyari leads sendiri.

Tiga Peran yang Sering Dipukul Rata

Di sales, minimal ada tiga peran. Banyak orang nyampur ketiganya jadi satu padahal beda dunia.

Yang bahaya, orang kuat di satu peran tapi ngaku punya ketiganya. Lebih bahaya lagi kalau dia kuat di Closer doang, ngerasa top sales, padahal seumur hidup belum pernah outreach sekali pun.

Closer yang belum pernah berburu itu bukan top sales. Dia penembak jitu yang nggak tahu rasanya nyari buruan sendiri.

Kenapa Skill Sales B2B yang Timpang Itu Risiko

Pipeline nggak selamanya ideal. Kalau tim sales cuma ngandelin satu pintu inbound, semuanya ambruk pas leads sepi. Kantor berdarah-darah karena nggak ada cadangan revenue.

Hitung sederhana. Misal 80% revenue Anda datang dari inbound. Pas iklan diturunin atau market lagi lesu, 80% itu hilang dalam semalam. Yang tersisa cuma tim yang nggak pernah dilatih berburu.

Padahal market B2B itu siklusnya panjang. Anda butuh orang yang bisa buka pintu baru pas pintu lama tertutup. Di situlah Hunter jadi aset, bukan beban.

Dan jangan kira para founder nggak ngopi bareng. Pas Anda pindah kantor dan jualan kecap soal pencapaian, HRD pasti crosscheck ke tempat lama. Kalau ketahuan halu, kelar karier Anda di industri itu.

Framework Naik Kelas Buat Anak Sales

Buat Anda yang lagi merintis karier di sales, ini tiga langkah yang bisa langsung dipakai.

  1. Berhenti overclaim. Jujur sama track record. Kalau jago closing inbound, bilang aja jago closing. Nggak usah ngaku Hunter kalau belum pernah cold approach sekali pun.
  2. Bangun skill kedua. Kalau aslinya Closer, latih hunting. Kalau Hunter, latih closing dan retention. Yang punya dua skill beda level sama yang cuma punya satu.
  3. Jaga ego, jaga tim. Nama tempat kerja Anda bantu banget jualan Anda hari ini. Jaga citranya. Baikin orang di kantor. Karier jangka panjang dibangun dari reputasi, bukan dari klaim.

Latih skill keduanya pelan-pelan. Mulai dari 10 cold approach seminggu kalau Anda Closer. Canggung di awal itu normal. Tapi tiga bulan lagi Anda jadi orang langka yang bisa buka dan nutup pintu sekaligus.

Kalau Anda lagi bangun tim sales B2B yang sehat dari hulu ke hilir, sistem lead generation yang rapi itu pondasinya. Tim Uraga sering bantu bisnis nyusun mesin inbound sekaligus playbook outbound lewat solusi B2B Uraga. Funnel yang dirawat baik tetap aset berharga, dan orang yang bisa konvert di ujungnya tetap punya value.

Disclaimer Biar Adil

Saya sendiri pemilik agensi yang kerjanya bikin "inbound ads yang udah jalan manis" itu buat ratusan brand. Jadi saya tahu persis funnel yang dirawat baik itu emas.

Yang saya kritik bukan orangnya. Tapi mindset yang ngaku jago berburu padahal seumur hidup cuma manen. Closer punya tempat terhormat. Tapi jangan pakai jubah Hunter buat naikin harga diri.

Karier sales jangka panjang dibangun dari reputasi yang jujur, bukan dari klaim yang gampang dibongkar HRD.

Skill sales B2B yang lengkap itu jarang. Closer banyak. Farmer ada. Hunter sejati yang tahan ditolak ratusan kali itu langka. Makanya yang punya tiga-tiganya selalu premium di pasar.

Jadi sebelum Anda ngaku top sales, tanya jujur ke diri sendiri. Anda beneran berburu, atau cuma kebetulan kebagian buruan yang udah disiapin orang lain?


📣 Mau dibikinin plan buat mendominasi secara SEO dan AI? Tim Uraga udah bikin frameworknya. Hubungi → seo.uraga.co.id