Ada sesuatu yang hampir menggemaskan dari ekspektasi yang salah tempat. Belum lama ini, gue harus melepaskan seseorang yang udah gue siapkan untuk naik tahta. Gue mau menciptakan legacy lewat dia. Gue pikir gue sedang menyiapkan seorang penerus.
Tapi ternyata, visi itu barang mewah yang nggak semua orang mampu beli.
Dia memutuskan pergi. Alasannya cukup puitis, dengan cara yang naif: dia merasa butuh pemimpin yang "full-time." Dia percaya bahwa founder yang membagi fokusnya ke berbagai venture adalah founder yang nggak serius. Dia memilih berlabuh ke kompetitor, teman-teman lamanya, karena merasa mereka lebih "aligned" dan "fokus."
Gue cuma bisa senyum. Lu tau senyum spesifik yang orangtua kasih ke balita yang ngotot nuker berlian sama lollipop cuma karena permennya lebih terang? Nah, yang itu.
1. Metrik Kursi Kantor
Genuinely lucu ketika "produktivitas" diukur dari seberapa sering siku kita bersentuhan di kantor.
Mungkin dia lupa, atau mungkin memang nggak punya kapasitas untuk ngerti, dari mana oksigen bisnis ini sebenarnya datang. Investor pertama kita? Meeting-meeting sama pemain besar kayak Pak Hermanto? Semua itu nggak terjadi karena gue duduk manis di meja. Semua itu terjadi karena gue di luar sana.
Ada ironi yang nikmat di sini: dia merasa gue terlalu "distracted," padahal justru "kurangnya fokus" gue lah yang membuka setiap pintu yang dia lewati. Lead-lead itu? Peluang-peluang itu? Bukan sihir. Itu hasil dari network gue.
Tapi gue rasa buat mereka yang punya mindset pekerja, keamanan itu berarti bisa lihat bosnya di ruangan sebelah, stres mikirin detail kecil yang sama. Mereka nggak paham bahwa kerjaan gue adalah mengisi bahan bakar kapal, bukan ngepel dek.
2. Rumput yang Keliatan Hijau
Dia pilih kompetitor. Dia pilih "fokus."
Gue cuma bisa bilang: Gue doakan yang terbaik buat dia.
Gue selalu percaya bahwa track record adalah bola kristal terbaik. Kalau "fokus" yang dia kagumi itu menghasilkan bisnis yang udah jalan tiga tahun dengan portofolio berisi pernikahan yang hancur, gugatan tanpa henti (somasi sana, somasi sini, bahkan menggugat staf sendiri), dan chaos internal yang konstan... ya selamat. Lu udah nemu tribe lu.
Di mata yang belum terlatih, kapal mereka keliatan sibuk. Berisik. Frantic. Tapi orang pintar tau bedanya antara kapal yang berlayar cepat dan kapal yang panik menimba air supaya nggak tenggelam.
Sayang ketika kebutuhan akan "belonging" atau mungkin cuma kenyamanan mediokritas? mengaburkan logika seseorang.
Mungkin ini salah gue. Gue pikir gue sedang bicara dengan calon jenderal; ternyata, gue cuma sedang bicara dengan prajurit yang sangat baik.
Prajurit cuma peduli jatah hari ini dan perintah yang jelas.
Seorang Jenderal peduli soal ekspansi, unfair advantages, dan permainan level tinggi.
Gue nggak main di sandbox yang sama dengan pengusaha lokal yang dia kagumi. Gue satu-satunya. Gue leverage setiap aset, setiap koneksi, dan setiap so-called "distraksi" untuk menciptakan pertumbuhan eksponensial.
Tragis kalau lu menilai buku dari berapa jam penulisnya duduk ngetik, bukan dari bobot ceritanya. Lu merasa besar karena bisa convert leads? Ingat, nak: lu cuma tau cara masak. Lu belum pernah belajar cara berburu.
Penutup
Pada akhirnya, setiap orang berhak punya versi kebenarannya sendiri.
Kalau kebenaran lu melibatkan menjadi "yes-man" demi kenyamanan sementara di ekosistem toxic yang cuma keliatan sibuk, silakan. Gue nggak akan menghalangi.
Gue akan kembali ke "kurangnya fokus" gue—closing investor besar, membangun network masif, dan leveraging unfair advantages gue. Lu tau, hal-hal yang sebenarnya membangun empire, tapi sayangnya nggak bisa dilakukan sambil megangin tangan lu di kantor.
Good luck dengan gig baru lu. Lu bakal butuh itu.