Perspektif Personal
Hi, gue Dirga Isman — CEO Uraga, digital agency yang based di Jakarta. Selama 5 tahun terakhir, gue udah kerja sama 300+ brand sambil lead tim 40 orang super talented di Jawa Timur. Dan kalau ada satu hal yang gue pelajari (kadang dengan cara yang menyakitkan), itu ini: brand itu beneran susah diukur.
Gue ngerti. Semua orang suka dashboard yang rapi dan tajam dari performance marketing — klik, konversi, ROAS, semua terbungkus rapih. Tapi waktu nyampe ke brand? Tiba-tiba rasanya kayak lo lagi menatap kabut. Lo tau itu penting. Lo ngerasa itu penting. Tapi buktiin pake angka? Di situlah segalanya jadi tricky.
Selama bertahun-tahun, gue harus balance antara klien yang mau hasil instan (yep, yang classic "Berapa sales yang konten ini bakal bawa besok?") dan long-term game bangun brand. Dan jujur, marketer terbaik yang gue kenal nggak menghindar dari bagian yang berantakan — mereka lean into it. Mereka bangun sistem buat track apa yang bisa ditrack, tapi mereka juga nerima bahwa nggak semua yang berharga bisa (atau harus) diukur.
Di artikel ini, gue mau breakdown gimana gue approach "puzzle pengukuran brand" dalam empat cara praktis. Hal-hal yang udah works buat gue dan tim gue, dan hopefully bakal bantu lo juga.
1. Set Baseline Metrics Lo Dari Awal
Jangan nunggu sampe 6 bulan ke dalam campaign baru mulai nanya, "Gimana kabar brand-nya?" Sebaliknya, tentuin beberapa baseline metrics sederhana dari awal.
Ini bisa berupa:
Share of search (seberapa sering orang Google brand lo vs. kompetitor)
Branded keyword traffic
Social mentions atau sentiment
Profile Visit
Website Visit
Insider tip: Gue pernah punya klien yang panik soal engagement yang "rendah" di sebuah campaign, sampai kita keluarin data baseline dari bulan pertama. Ternyata, brand mention mereka udah naik tiga kali lipat. Tanpa baseline, kita bakal miss kemenangan itu.
Pro move: Dokumentasiin baseline lo di Google Sheet sederhana. Nggak harus fancy, yang penting konsisten.
2. Pake Brand Tracking Surveys (Tanpa Berlebihan)
Survey mungkin terasa old-school, tapi masih works. Jalanin brand tracker yang always-on kasih lo pulse check soal awareness, consideration, dan preference.
Lo nggak butuh sample yang gede setiap kali — kadang survey kecil yang rutin aja bisa nunjukin kalau orang bergerak dari "gue nggak pernah denger lo" ke "iya, gue bakal consider beli."
Personal experience: Gue dulu pikir survey itu buang waktu sampai salah satu klien FMCG kita nunjukin gimana data survey menjelaskan sales spike lebih baik dari ad metric manapun. Sejak saat itu, gue jadi devoted believer. Apa yang orang bilang itu data terbaik.
Tools yang gue recommend:
Google Surveys* (murah, cepet, nggak sempurna tapi solid)
Typeform* (UX bagus kalau lo mau feel yang lebih polished)
3. Eksperimen dengan Incrementality Tests
Incrementality testing kedengerannya fancy, tapi intinya cuma nanya:
"Apakah hasil ini bakal terjadi kalau kita nggak jalanin campaign-nya?"
Anggap aja A/B testing, tapi direntangin sepanjang waktu dan channel. Nggak gampang, lo butuh kesabaran dan buy-in dari leadership. Tapi... ini salah satu cara paling jujur buat buktiin brand impact.
Keep it simple:
Pilih satu region di mana lo jalanin campaign yang brand-heavy.
Bandingin sama control region di mana lo nggak jalanin.
Track keduanya selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan.
Sempurna? Nope. Tapi lebih baik dari assume semua hasil dateng dari ads.
4. Lakuin Marketing yang Bagus Anyway
Ini kebenaran yang nggak ada yang suka ngakuin:
nggak semua yang penting bisa diukur.
Beberapa campaign itu cuma marketing yang bagus — memorable, bold, emosional.
Lo tetap harus lakuin itu.
Setiap brand besar yang lo kagumi punya campaign yang mungkin nggak nunjukin ROI yang rapi di bulan pertama. Tapi campaign-campaign itu yang jadi alasan orang inget mereka bertahun-tahun kemudian.
Jadi ya, ukur apa yang bisa diukur. Bangun sistem, track baseline, test incrementality. Tapi juga, sisain ruang buat kreativitas dan gut instinct. Karena kadang brand move terbaik itu yang nggak bisa lo masukin ke spreadsheet.
Penutup
Kalau lo udah frustrasi sama tantangan ngukur brand, lo nggak sendirian. Gue juga pernah di sana — balance antara dashboard sama gut feeling, spreadsheet sama sticky notes. Tapi dengan set baseline, jalanin survey, test incrementality, dan (yang paling penting) tetap lakuin marketing yang bagus, lo bakal mulai lihat gambaran yang lebih besar.
At the end of the day, brand itu soal bangun long-term value. Dan meskipun angka itu penting, perasaan yang orang bawa soal brand lo sama pentingnya.
Gue pengen denger dari lo: gimana lo ngukur brand impact lo? Drop komentar atau share artikel ini kalau resonated. Dan hey, kalau lo mau lebih banyak take gue soal marketing, branding, dan performance, feel free follow gue di LinkedIn atau join newsletter gue.